Mengapa Beberapa Gereja Lebih Menekankan Kekayaan dan Kesuksesan Materi?

Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian gereja dan pengkhotbah mulai mengajarkan bahwa kemakmuran finansial adalah bukti berkat dan perkenanan Tuhan. Ajaran ini dikenal dengan sebutan “injil kemakmuran” atau prosperity gospel, yang menyatakan bahwa iman dan pemberian yang besar kepada gereja akan menghasilkan kekayaan materi bagi umat percaya.

Sebuah studi oleh Lifeway Research menunjukkan peningkatan kepercayaan ini secara signifikan. Pada tahun 2022, 52% jemaat percaya bahwa Tuhan akan memberkati mereka secara finansial jika mereka memberi lebih banyak, naik dari 38% pada tahun 2017. Bahkan 76% percaya bahwa Tuhan menghendaki mereka makmur secara finansial. Ini mencerminkan pergeseran teologis yang cukup serius.

Namun, kita harus bertanya: Apakah ini sesuai dengan ajaran Kristus?

Ketidaksesuaian dengan Ajaran Yesus

Yesus Kristus tidak pernah mengajarkan bahwa kesuksesan materi adalah tanda utama perkenanan Tuhan. Sebaliknya, Dia berkata:

“Berbahagialah kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.”
(Lukas 6:20)

Yesus memperingatkan kita untuk tidak dapat melayani Tuhan dan mamon secara bersamaan (Matius 6:24). Rasul Paulus pun menyatakan bahwa “akar segala kejahatan ialah cinta uang” (1 Timotius 6:10). Para rasul, nabi, dan bahkan Yesus sendiri hidup dalam kesederhanaan dan seringkali dalam penderitaan, bukan kemewahan.

Distorsi Rohani dalam Injil Kemakmuran

Ajaran injil kemakmuran mengubah hubungan kasih dengan Allah menjadi transaksi bisnis. Bukannya mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu dan mengandalkan penyertaan-Nya, ajaran ini memikat orang untuk mencari Tuhan demi harta duniawi.

Ini bukanlah iman yang murni. Ini adalah tipu daya Iblis yang memanipulasi kekurangan dan penderitaan manusia untuk menuntun mereka mengejar berkat, bukan Pribadi yang Memberkati.

Panggilan untuk Bertobat

Gereja harus kembali kepada Injil Kerajaan yang diberitakan oleh Yesus — sebuah Injil yang memanggil umat untuk hidup kudus, rendah hati, berbelas kasih, dan mengasihi Tuhan lebih dari dunia ini. Fokus kita adalah kekayaan rohani, bukan emas dan perak.

Matius 6:33 berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.”

Berlimpah secara finansial bukanlah dosa, tetapi menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup adalah penyimpangan. Umat Tuhan harus memiliki kekayaan, tetapi tidak boleh diperbudak olehnya.

Kesimpulan: Setiap ajaran yang menempatkan kekayaan di atas Kristus adalah kesesatan. Tuhan mencari umat yang haus akan kebenaran, bukan yang lapar akan harta duniawi.

Soli Deo Gloria