Apakah Allah dalam Perjanjian Lama Berbeda dari Allah dalam Perjanjian Baru?

Pertama-tama, penting untuk ditegaskan: Allah yang dinyatakan dalam Perjanjian Lama bukanlah Allah yang berbeda dari yang dinyatakan dalam Perjanjian Baru. Sifat dasar dan karakter-Nya tidak pernah berubah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:

  • Maleakhi 3:6 – “Sebab Aku, TUHAN, tidak berubah...”
  • Ibrani 13:8 – “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”

Dalam Perjanjian Baru kita melihat Allah dinyatakan dalam pribadi Yesus Kristus secara lebih penuh, namun karakter dasar Allah—yaitu kekudusan, kasih, keadilan, dan kemurahan—selalu konsisten sejak awal penciptaan.

Belas Kasihan dan Murka: Dua Sisi dari Kekudusan yang Sama

Baik Perjanjian Lama maupun Baru menunjukkan dengan jelas keseimbangan antara murka Allah terhadap dosa dan belas kasihan-Nya terhadap orang berdosa. Misalnya:

  • Kejadian 6:3 – Tuhan tidak langsung menghukum manusia dalam kejahatannya, tetapi menunggu 120 tahun sebelum air bah, menunjukkan kesabaran-Nya.
  • 2 Samuel 12 – Tuhan mengampuni Daud setelah pertobatannya, meski dosanya besar.
  • Bilangan 13–14 – Sekalipun Israel berulang kali memberontak, Tuhan tetap memberi kesempatan untuk bertobat.

Di Perjanjian Baru, belas kasihan Allah mencapai puncaknya dalam salib Kristus (Yohanes 3:16), namun murka-Nya terhadap dosa tetap nyata (Kisah Para Rasul 5:1-11 – Ananias dan Safira). Allah tidak berubah; Ia tetap kudus dan adil dalam kasih-Nya.

Darah Kristus: Penggenapan Perjanjian

Dalam Perjanjian Baru, kita melihat bahwa karya penebusan melalui darah Kristus adalah jawaban final terhadap masalah dosa. Yesus telah menanggung murka Allah agar kita dibenarkan di hadapan-Nya.

Ketika kita bertobat dan percaya kepada Yesus, tubuh, jiwa, dan roh kita disucikan oleh darah Anak Domba. YHWH tidak lagi melihat kita berdasarkan kelemahan dan dosa, melainkan berdasarkan darah Anak-Nya yang telah menebus kita sekali untuk selama-lamanya.

1 Petrus 1:18-19 menyatakan bahwa kita telah ditebus bukan dengan emas atau perak, tetapi “dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus.” Tidak ada darah lembu atau kambing yang mampu menebus manusia, hanya darah Yesus yang berkuasa menghapus dosa.

Kesimpulan: Satu Allah yang Konsisten dan Setia

Allah tidak berubah. Dari awal hingga akhir, Ia adalah Allah yang sama—kudus, benar, penuh kasih, dan setia pada janji-Nya. Perjanjian Lama menunjukkan dasar keadilan dan kasih-Nya, dan Perjanjian Baru menyingkapkan kedalaman rahmat-Nya dalam Kristus.

Puji Tuhan, bahwa kita hidup di bawah terang perjanjian yang baru, di mana kasih karunia menjadi jalan masuk bagi siapa pun yang bertobat dan percaya. Namun Allah yang sama yang menebus juga adalah Allah yang akan datang kembali sebagai Hakim yang adil.

Soli Deo Gloria