Salah satu pertanyaan terdalam yang muncul dalam hati manusia adalah ini: Jika YHWH adalah kasih dan Mahakuasa, mengapa Ia mengizinkan penderitaan dan kejahatan terjadi di dunia? Apakah Ia tidak peduli? Atau apakah Ia tidak sanggup menghentikannya? Ini adalah dilema yang telah membuat banyak orang bertanya, ragu, bahkan menolak keberadaan Tuhan. Namun, bagi kita yang percaya kepada Alkitab dan kepada Tuhan yang hidup, jawaban atas pertanyaan ini harus datang dari terang kebenaran dan bukan dari pemikiran manusia semata.

YHWH yang Berdaulat, Bukan YHWH yang Pasif

Alkitab secara konsisten menyatakan bahwa YHWH adalah Mahakuasa, Mahatahu, dan Mahahadir. Ia memegang kendali atas segala sesuatu yang terjadi, baik di langit maupun di bumi. Dalam Efesus 1:11 dikatakan bahwa Ia “menggenapi segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.” Tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin dan pengetahuan-Nya. Bahkan hal-hal yang tampaknya buruk sekalipun, tidak luput dari mata dan rencana-Nya.

Namun, pengertian ini harus dijaga dengan hati yang takut akan Tuhan. Kita tidak sedang mengatakan bahwa YHWH adalah penyebab dosa. Dosa adalah pemberontakan terhadap kehendak YHWH. Namun, YHWH dalam kedaulatan-Nya yang agung, dapat memakai keberadaan dosa dan penderitaan untuk maksud-Nya yang kudus dan benar.

Tuhan Tidak Menciptakan Dosa

Dalam Yesaya 45:7, Tuhan berkata, “Akulah yang membentuk terang dan menciptakan kegelapan, yang membuat damai dan menciptakan malapetaka.” Kata Ibrani "ra" yang diterjemahkan sebagai "malapetaka" atau "kejahatan" dalam beberapa versi, tidak berarti dosa moral, melainkan bencana atau penderitaan. YHWH tidak menciptakan dosa, karena dalam 1 Yohanes 1:5 tertulis bahwa "YHWH adalah terang dan di dalam-Nya sama sekali tidak ada kegelapan." Ia adalah sumber segala kesucian dan kebenaran. Yakobus 1:13 menegaskan bahwa "YHWH tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun."

Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa YHWH sering menggunakan penderitaan untuk menggenapi tujuan-tujuan-Nya. Ia mengizinkan bangsa-bangsa dihukum, kota-kota dihancurkan, dan bahkan pribadi-pribadi digoncangkan—bukan karena Ia senang menyiksa, melainkan karena kasih-Nya menghendaki pemurnian dan pertobatan.

Mengapa YHWH Mengizinkan Kejahatan Ada?

YHWH menciptakan manusia dengan kehendak bebas. Dalam kebebasan itulah manusia memiliki kemampuan untuk mencintai, menyembah, dan menaati Tuhan secara sukarela. Namun kebebasan yang sejati juga membawa potensi untuk memilih melawan YHWH. Kejahatan muncul ketika manusia menggunakan kebebasan tersebut untuk memberontak.

Penting untuk disadari bahwa YHWH tidak pernah kehilangan kendali. Kejatuhan manusia bukanlah kegagalan rencana YHWH. Justru, di tengah kejatuhan itu, kasih dan keadilan-Nya dinyatakan. Ia telah merancang penebusan dalam Kristus bahkan "sebelum dunia dijadikan" (1 Petrus 1:20). Salib bukanlah rencana cadangan—melainkan bagian inti dari rancangan kekal-Nya.

Yesus Kristus: Puncak dari Jawaban YHWH

Di salib, YHWH sendiri memasuki penderitaan umat manusia. Dalam pribadi Yesus, Sang Anak Tunggal, YHWH tidak tinggal jauh dari luka dan kesakitan kita. Ia mengambil rupa seorang hamba, hidup dalam kesempitan dan penderitaan, dan akhirnya disalibkan secara hina. Di sanalah misteri terdalam itu dijawab: YHWH tidak hanya mengizinkan penderitaan—Ia sendiri menanggungnya.

Kisah Para Rasul 2:23 menyatakan bahwa Yesus diserahkan "menurut maksud dan rencana YHWH yang sudah ditentukan sebelumnya," namun sekaligus melalui tangan-tangan orang jahat. Di sinilah terlihat bahwa YHWH mampu memakai kejahatan manusia untuk menggenapi keselamatan dunia. Salib adalah titik pertemuan antara keadilan dan kasih, antara murka dan rahmat.

Yesus tidak kalah di salib. Ia menang! Iblis mengira bahwa salib adalah pukulan terakhir, padahal itu adalah jalan menuju kemenangan kekal. Melalui kebangkitan-Nya, Yesus menaklukkan maut, dan membuka jalan kehidupan bagi semua yang percaya.

Penderitaan Membentuk Kita

Roma 8:28 menyatakan bahwa "YHWH turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia." Ini termasuk penderitaan, kesulitan, dan pencobaan. Dalam tangan Tuhan, penderitaan menjadi alat pembentukan. Seperti emas yang dimurnikan dalam api, begitu pula iman kita dimurnikan melalui tekanan hidup.

Dalam Roma 5:3-5, Paulus berkata bahwa penderitaan menghasilkan ketekunan, ketekunan menghasilkan tahan uji, dan tahan uji menghasilkan pengharapan. Inilah jalan kematangan rohani. YHWH lebih peduli kepada karakter kekal kita daripada kenyamanan sementara. Ia sedang mempersiapkan kita untuk kekekalan, bukan hanya memberi kenyamanan sementara.

Iblis Tidak Berkuasa Bebas

Alkitab tidak menggambarkan Iblis sebagai lawan seimbang bagi YHWH. Ia adalah ciptaan yang jatuh, dan segala kuasanya terbatas oleh izin YHWH. Dalam kisah Ayub, Setan hanya bisa mencobai sejauh yang diizinkan oleh YHWH. Demikian pula, dalam Lukas 22:53, Yesus berkata bahwa waktu penangkapan-Nya adalah "masa kegelapan"—waktu di mana YHWH mengizinkan kuasa Iblis untuk sesaat berkuasa. Namun kendali tetap ada di tangan YHWH.

Iblis dapat merancang kejahatan, tetapi YHWH dapat mengubahnya menjadi kemuliaan. Inilah misteri kebijaksanaan ilahi yang membuat setan menjadi alat bagi rencana YHWH, bahkan tanpa disadarinya.

Kejahatan Tidak Akan Bertahan Selamanya

Alkitab penuh dengan janji bahwa penderitaan akan berakhir, dan kejahatan akan dihancurkan. Wahyu 21:4 menyatakan bahwa akan datang hari di mana tidak akan ada lagi air mata, maut, perkabungan, ratap tangis, ataupun dukacita. Kristus akan memerintah, dan semua kuasa lawan akan ditaklukkan di bawah kaki-Nya (1 Korintus 15:25-28).

Setiap air mata yang diteteskan di bumi ini tidak akan sia-sia. YHWH akan menggantinya dengan sukacita kekal. Ia akan membenarkan orang benar dan menghakimi yang jahat. Keadilan akan ditegakkan, dan bumi akan dipenuhi kemuliaan Tuhan seperti air menutupi dasar laut (Yesaya 11:9).

Penutup: Pengharapan yang Pasti

YHWH tidak membiarkan kejahatan merajalela tanpa arah. Ia bukan YHWH yang pasif, melainkan Hakim yang panjang sabar. Dalam 2 Petrus 3:9 dikatakan bahwa Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, tetapi Ia sabar, karena Ia tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.

Melalui Kristus, penderitaan menjadi alat pemurnian. Melalui Kristus, kematian dikalahkan. Dan melalui Kristus, semua hal—termasuk penderitaan—akan membawa kita masuk dalam kemuliaan yang kekal.

Kiranya kebenaran ini membawa terang dan penghiburan bagi jiwamu di tengah badai kehidupan. Tuhan tahu luka hatimu. Ia peduli. Dan Ia tidak akan membiarkan engkau diuji melebihi kekuatanmu.

"Sebab penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita." – Roma 8:18

Soli Deo Gloria